Pengalaman Spiritual di Myanmar Ubah Bos Twitter Jack Dorsey Jadi Filantropis

Pendiri Twitter Jack Dorsey Akan Sumbangkan Semua Kekayaannya, Ini Alasannya
Si filantropis berhati mulia yang merupakan bos atau pendiri sekaligus CEO Twitter dan Square Jack Dorsey, berencana menyumbangkan seluruh kekayaan yang berhasil dikumpulkannya sepanjang hidup. (Ist)

Terkini.id, Kupang – Belum lama ini, dunia kembali dikejutkan kabar terkait kedermawanan yang diklaim sangat luar biasa di tengah pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Berita tersebut santer beredar tidak hanya di media sosial (medsos), namun juga dibahas di media-media besar dunia.

Pasalnya, pendiri sekaligus CEO Twitter dan Square Jack Dorsey, berencana menyumbangkan seluruh kekayaan yang berhasil dikumpulkannya sepanjang hidup.

Seperti dilansir CNBC International, Sabtu 23 Mei 2020, pria berusia 43 tahun tersebut memiliki total nilai kekayaan mencapai 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp 72,03 triliun, yang berarti akan disumbangkan seluruhnya demi kemanusiaan.

Meskipun banyak pelaku usaha dunia sudah memafhumi sifat filantropis Dorsey, tetapi banyak yang belum tahu apa yang mengubah dirinya sehingga menjadi sangat dermawan.

Dorsey sendiri seakan tidak mempedulikan seberapa besar harta yang ia peroleh dari lumbung uangnya, Twitter dengan menyumbangkan seluruhnya kepada sesama yang membutuhkan, khususnya terhadap warga dunia yang terdampak Covid-19.

Dalam kicauannya di akun Twiter pribadinya pada 8 Desember 2018 lalu, pria yang akrab dengan cambang di dagunya tersebut mengatakan, pengalaman spiritual saat berada di Myanmar telah menyadarkannya tentang rasa humanistik dan universalitas dengan alam.

Saat banyak orang merayakan ulang tahun mereka dengan pesta, makan-makan, dan musik, akan tetapi sikap berbeda ditunjukkan Dorsey tepat ketika merayakan ulang tahunnya pada 19 November 2018 lalu.

“Saya melakukan hal yang berbeda saat merayakan ulang tahun. Ulang tahun pada saat itu saya justru mengadakan perjalanan ke Myanmar untuk meditasi dalam keheningan selama 10 hari di sebuah pusat meditasi,” bebernya.

Dorsey mengungkapkan, ia mempraktikkan teknik meditasi vipasana (salah satu teknik meditasi kontempolasi dalam Buddhisme) yang ia sebut permenungan terhadap kehidupan, baik suka maupun duka.

Perjalanan retret meditasinya tersebut, ia tuangkan dalam kicauannya di akun Twiter pribadinya pada 8 Desember 2018 lalu.

Dorsey dalam cuitannya di Twitter kala itu mengatakan, saat itu ia tinggal Dhamma Mahima, pusat meditasi vipasana nirlaba di Pyin Oo Lwin, Myanmar. Selama masa tinggalnya, Dorsey tidur di kamar sederhana dengan tempat tidur tanpa kasur dengan sebuah bantal kepala.

Ketika berada di sana selama 10 hari, ia tidak diperkenankan membaca, menulis, berolahraga, dan mendengarkan musik. Ia juga tidak diperkenankan mengkonsumsi minuman keras atau daging, dan berbicara serta melakukan kontak mata.

“Saya bangun jam empat pagi setiap hari, dan kami bermeditasi hingga jam sembilan malam. Ada istirahat untuk sarapan, makan siang, dan berjalan. Tidak ada makan malam,” imbuh Dorsey.

Sebelumnya, kepada CNBC International, ia mengungkapkan alasan dirinya mendonasikan seluruh kekayaannya.

Dorsey mengatakan, alasan untuk menyumbangkan seluruh hartanya didorong sifat humanistik untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Ia berprinsip, berbagai hal yang terjadi di seluruh dunia saling terhubung.

“Jika seseorang mengalami rasa sakit, kita akan merasakan hal yang sama. Saya ingin memastikan, bisa melakukan apapun yang bisa saya lakukan di hidup ini untuk membantu, melalui apa yang saya lakukan di perusahaaan, juga dari diri saya sendiri,” papar Dorsey.

Seperti diketahui, pada 7 April 2020 lalu, Dorsey melalui akun Twitternya sempat menyatakan bakal mentransfer satu miliar dolar AS sahamnya di Square untuk pihak-pihak yang terdampak pandemi virus corona.

Dana dari saham itu, nantinya bakal digunakan untuk bantuan langsung tunai (BLT) hingga mendukung kesehatan dan pendidikan perempuan. Saat itu, sumbangan yang ia berikan setara 28 persen dari total nilai kekayaannya.

“Saya berada di situasi yang belum pernah saya bayangkan ketika saya masih kecil, atau bahkan saat saya berusia 25 tahun,” beber Dorsey.

Menurutnya, ia tidak memiliki bayangan apapun mengenai arti uang hingga setidaknya berusia 35 tahun.

Dorsey yang masuk dalam jajaran orang kaya versi Forbes pada 2012 tersebut, mengungkapkan merasa bersyukur atas apa yang ia peroleh selama ini.

Kendati demikian, ia tidak hanya bisa berhenti dengan bersyukur akan tetapi dengan melakukan sesuatu. Dalam arti, Dorsey ingin memberikan uang yang ia miliki untuk hal-hal yang lebih bermakna.

“Saya ingin menyumbangkan seluruh uang yang saya miliki selama hidup ini. Saya ingin melihat dampaknya, dan tidak menjadi egois. Saya ingin memastikan benar-benar bisa membantu orang-orang,” papar Dorsey.

Sebelumnya, Dorsey sempat mempublikasikan donasinya yang sebesar satu miliar dolar AS melalui tautan Google Document di akun Twitternya. Lantaran kontribusi dari saham dan nilai sahamnya telah meningkat, saat ini donasi tersebut bernilai lebih 1,5 miliar dolar AS.

Ia mengungkapkan, saat ini sebanyak 200 juta dolar AS donasi berupa saham tersebut telah dilikuidasi menjadi uang tunai. Sementara, per Kamis 21 Mei 2020 lalu, Dorsey telah medistribusikan lebih 85 juta dolar AS dari dana bantuan itu.

Dorsey juga mengaku, tidak berminat membangun yayasan lantaran tidak ingin membayar biaya adminstasi tambahan jika mendirikan sebuah organisasi filantropis.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Flu Babi Jenis Baru G4 Muncul di Tiongkok, Diduga Bisa Jadi Pandemi

Misteri di Lubang Hitam, Astronom Temukan Benda Usia 780 Juta Tahun Cahaya

Morgan Stanley Proyeksi Ekonomi Indonesia Tercepat Kedua Pulih Pasca Corona

WHO Laporkan Rekor Kenaikan Kasus Corona Tertinggi dalam Sehari

WHO Bilang Waspada, 100 Kasus Baru Corona Muncul di Beijing

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar