Onde-onde, Penganan Tradisional yang Diklaim Sudah Populer pada Zaman Majapahit

Onde-onde, Penganan Tradisional yang Diklaim Sudah Populer pada Zaman Majapahit
Salah satu penganan atau kue tradisional yang digemari masyarakat di Tanah Air adalah Onde-onde. Selain manis, jenis kue yang bentuknya bulat seperti bola kecil sekepalan tangan ini juga gurih. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Salah satu penganan atau kue tradisional yang digemari masyarakat di Tanah Air adalah Onde-onde. Selain manis, jenis kue yang bentuknya bulat seperti bola kecil sekepalan tangan ini juga gurih.

Gurih lantaran Onde-onde yang sudah masuk kuliner entitas Melayu ini memiliki kulit kerak kenyal dari tepung ketan beraroma khas sebagai pembungkus isi dalaman yang tidak kalah enaknya.

Ciri khas yang menyertai Onde-onde ini dapat dilihat dari taburan ratusan biji wijen di sekelilingnya.

Sementara, isi dalaman Onde-onde berisi pasta kacang hijau yang dicampur gula pasir sehingga terasa manis, meskipun secara umum di beberapa daerah menggunakan bahan berbeda seperti remah atau parutan kelapa, gula aren, dan banyak bahan lainnya sesuai versi pembuatnya.

Onde-onde dalam bahasa Sansekerta kuno disebut Hanacaraka, biasa juga ditulis “Ondhe-ondhe” di daerah Yogyakarta dan sebagian tenggara Jawa Tengah seperti Surakarta dan sekitarnya, diklaim sudah populer sejak zaman Majapahit. Penganan yang disukai berbagai kalangan baik dewasa maupun muda ini, juga diklaim berasal dari Mojokerto, sehingga salah satu kota di Jawa Timur ini kerap dijuluki sebagai “Kota Onde-onde”.

Bagi penikmat kuliner Nusantara, penganan Onde-onde dapat ditemukan dengan mudah di pasar tradisional maupun dijual di pedagang kaki lima.

Bahkan, saat ini Onde-onde juga sudah merambah mal dan pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia, termasuk Kota Kupang.

“Onde-onde merupakan salah satu jajanan pasar yang populer dan disukai warga Kupang. Biasanya, mereka membeli pagi dan sore hari sebagai snack teman minum kopi hangat atau teh manis,” terang Sales Marketing Royal Bakery Shinta Lele saat ditemui di Royal Bakery, Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Sabtu 23 Mei 2020.

Ia menjelaskan, meskipun termasuk “kue kampung” atau lebih lazim disebut “jajanan pasar” oleh warga Nusa Tenggara Timur (NTT), namun diakuinya Onde-onde bisa bersaing dengan appetizers atau dessert ala Barat seperti cake, tart, roti, dan salad yang juga dijual pihaknya di Lower Ground (LG) Lippo Plaza, Jalan Veteran Fatululi Kupang.

“Onde-onde terbuat dari tepung ketan yang digoreng. Ini yang membedakannya dengan Klepon yang sering disalahartikan sebagian orang sebagai ‘Onde-onde’. Tetapi, yang paling mendasar yang membedakan adalah Onde-onde original atau umum diakui, selalu permukaannya ditaburi atau dibalur biji wijen. Adapun Klepon ditaburi remah parutan kelapa,” ulas Shinta.

Sekadar diketahui, Klepon atau “kelepon” adalah kue tradisional yang juga masuk dalam entitas Melayu.

Serupa Onde-onde, penganan ini juga terbuat dari tepung ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil dan diisi dengan gula merah lalu direbus dalam air mendidih.

Klepon yang sudah masak lalu digelindingkan di atas parutan kelapa agar melekat di dinding kulit, sehingga Klepon terlihat berbalur parutan kelapa.

Biasanya, Klepon diletakkan dalam wadah yang terbuat dari daun pisang.

Di Sumatera, Sulawesi, dan Malaysia, Klepon disebut “Onde-onde”, sementara di Jawa dan bagian lain wilayah Indonesia, penganan yang disebut Onde-onde adalah bola tepung beras ketan berisi adonan kacang hijau yang dibaluri biji wijen.

Perbedaan penyebutan antara di Jawa dan Sumatera, Sulawesi, dan Malaysia ini sering kali menjadi penyebab kekeliruan dan kerancuan dalam mengartikan Onde-onde.

Sejatinya, Klepon biasa dijajakan dengan getuk sebagai camilan di pagi atau sore hari. Warna Klepon biasanya hijau atau putih, tergantung selera pembuatnya.

Untuk Klepon dengan warna hijau, bahan pewarnanya berasal dari daun suji atau daun pandan.

Shinta menjelaskan, memang di Indonesia terdapat berbagai variasi terutama pada isian dalamannya.

Kendati begitu, Onde-onde original yang paling dikenal dan umum diketahui adalah Onde-onde yang terbuat dari tepung ketan dan di dalamnya diisi pasta atau bubuk kacang hijau.

Beberapa variasi Onde-onde ‘ala-ala’ yang juga dibuat pelaku kuliner di tempat lain, sebut Shinta, adalah variasi yang hanya dibuat polos dari tepung terigu dan diberi warna pada permukaannya seperti putih, merah, kuning, atau hijau yang dikenal sebagai Onde-onde gandum.

Ia mengatakan, di Royal Bakery baik di Jalan Bundaran PU maupun di LG Lippo Plaza, Onde-onde dibanderol Rp 3 ribu per picis sementara Klepon Rp 2.800.

“Semuanya disukai pelanggan, karena kedua kue tradisional ini memang sudah menjadi makanan kecil keseharian warga Kupang,” tutup Shinta.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar