Jangan Hanya Suka Selfie, Saatnya Jadi Fotografer Profesional

Jangan Hanya Suka Selfie, Saatnya Jadi Fotografer Profesional
Secara general, fotografer adalah seseorang yang bekerja memberikan jasa fotografi, biasanya melalui tahapan proses seperti bertemu klien, mengambil gambar, mencetak, memberikan gambar tersebut kepada klien, dan mendapatkan bayaran atas jasa tersebut. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Tren swafoto atau dalam bahasa “gaul” versi kawula muda disebut selfie yang merupakan akronim dari self-photography, saat ini sudah bukan aktivitas asing lagi.

Sejak munculnya smartphone yang terintegrasi kamera foto yang mumpuni, selfie mewabah dengan tidak mengenal batasan usia.

Sayangnya, meskipun didukung piranti yang bagus tetapi tentu sia-sia jika hasil bidikan asal jepret atau tidak memenuhi kriteria foto dengan unsur art yang kental sebagaimana yang sering diperlihatkan foto-foto para fotografer professional.

Parahnya, sebagian besar fotografer amatir hanya menjepret tanpa estika. Sehingga, kegiatan fotografi terasa hambar lantaran keterbatasan kreativitas.

Untuk mengubah paradigma tersebut, tidak ada salahnya jika mulai memikirkan ke arah yang lebih profesional. Artinya, para penyuka selfie mulai bisa mendulang laba dari yang semula hanya hobi motret menjadi fotografer profesional.

Kendati demikian, banyak orang yang menganggap menjadi fotografer profesional itu sulit, apalagi yang bergelut di bidang jasa fotografi, seperti wedding photography dan yang berkenaan pelaku usaha studio foto.

Pasalnya, tidak sedikit orang beranggapan bisnis fotografi adalah bisnis padat modal. Banyak orang juga memproyeksi jumlah aset yang harus dimiliki seorang fotografer, yang notabene cukup besar untuk memiliki sebuah studio lengkap dengan peralatan foto yang profesional.

Padahal, saat ini paradigma itu telah bergeser lantaran dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri. Seseorang tidak perlu memiliki kamera mahal dengan studio pencetakan film, atau memiliki toko untuk menjual jasa.

Secara general, fotografer adalah seseorang yang bekerja memberikan jasa fotografi, biasanya melalui tahapan proses seperti bertemu klien, mengambil gambar, mencetak, memberikan gambar tersebut kepada klien, dan mendapatkan bayaran atas jasa tersebut.

Akan tetapi, saat ini ruang lingkup pekerjaan fotografer bukan hanya itu.

Pasalnya, ada yang lebih penting terkait “keberanian” untuk naik kelas ke dunia profesionalisme.

Apakah seseorang akan puas setelah menjalani hobi fotografi bertahun-tahun? Foto-foto hasil “hunting”, sudah barang tentu hanya akan memenuhi media penyimpanan di harddisk, album jejaring sosial, atau dicetak konvensional dan dipajang pada dinding-dinding kamar.

Bagaimana jika seseorang naik level dari seorang pehobi fotografi menjadi fotografer profesional? Tidak sulit, bahkan bisa dilakukan dengan mudah. Seorang fotografer amatir sekalipun, tidak harus membangun sebuah studio dengan unit peralatan lengkap dan mahal.

Namun, profesionalisme bisa dilakukan dari pekerjaan kecil seperti menerima tawaran pemotretan pre-wedding, baik dari teman atau kolega yang yang butuh didokumentasikan acaranya.

Tentu saja, pemotretan dimulai dari liputan acara kantor, kampus, atau sekolah. Dari sini, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh setelah “berani” menjadi seorang fotografer profesional. Di antaranya, pengalaman baru, penghasilan, serta karya yang dapat dinikmati publik. Tentu hal ini merupakan kebanggaan tersendiri.

Bagi fotografer yang sudah kenyang sebagai fotografer freelance profesional, tentunya harus naik level lagi sebagai fotografer “full time”. Bersyukurlah bila memang sudah memiliki modal untuk membangun studio foto baru, karena akan sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan seseorang.

Yang pasti, keberhasilan bisa dicapai jika benar-benar mengusung kualitas, kemampuan yang mumpuni, serta networking seluas mungkin. Jadi, berawal dari hobi berakhir dengan kesuksesan. Menjadi fotografer profesional, siapa takut?

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar