Penganan Lalampa Paling Diburu saat Ramadan, Ini Keistimewaannya

Penganan Lalampa Paling Diburu saat Ramadan, Ini Keistimewaannya
Lalampa adalah makanan ringan khas Manado. Di NTT, diaspora Manado yang bermukim di Kupang, diklaim mengenalkan makanan tersebut selain jenis makanan kecil lainnya yang dibawa para perantau dari Jawa. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Ramadan atau biasa ditulis Ramadhan, bagi umat Muslim dimaknai sebagai bulan penuh berkah. Berkah, lantaran ibadah puasa adalah kewajiban bagi umat Muslim yang paling dirindukan. Bagi para pedagang takjil, Ramadan juga berarti berkah, rezeki, dan tentunya “cuan”.

Tidak terasa akhir Ramadan tinggal menghitung hari, yang juga menandai jelang Hari Raya Idul Fitri 2020. Kendati begitu, suasana Ramadan masih terlihat “semarak” meskipun terjadi pembatasan-pembatasan bagi warga untuk beraktivitas di luar rumah.

Tidak sedikit warga, khususnya yang menjalankan ibadah puasa membeli takjil untuk dibawa pulang (take away) ke rumah masing-masing guna berbuka puasa bersama keluarga. Demikian pula untuk keperluan kue-kue Lebaran.

Sebelum pandemi virus corona menjamah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang, beraneka makanan dan minuman yang dijual para pedagang takjil pasti laris manis diserbu pembeli untuk menu berbuka puasa.

Kondisi sedikit berbeda di 2020 ini. Pasalnya, kebutuhan konsumtif pelanggan agak berkurang lantaran terganjal virus corona.

Hal itu diakui Manager Royal Bakery Anita Anny yang selalu menjual takjil berupa berbagai penganan atau jajanan pasar selain aneka roti setiap Ramadan di beranda Royal Bakery, Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah (TDM).

Anita mengatakan, jualannya selalu ludes setiap jelang buka puasa. Kendati begitu, diakuinya stok takjil yang disediakan pihaknya tidak sebanyak tahun-tahun lalu. Meskipun enggan menyebut omset, namun ia mengakui dengan adanya pandemi Covid-19, penjualan drop sekitar 50 persen dan tidak “segahar” pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Di luar roti dan kue tar sebagai jualan utama, aneka jajanan pasar yang ditawarkan pihaknya di antaranya Onde-onde, Putu Ayu, Pici-pici, Singkong Keju, Talam, Lalampa, dan masih banyak penganan lainnya.

“Kami juga menjual berbagai minuman seperti sirup pelepas dahaga, Es Kolak Pisang, Es Cendol, dan masih banyak minuman lainnya. Semuanya kami jual dengan harga terjangkau,” beber Anita saat ditemui di Royal Bakery, Selasa 19 Mei 2020.

Tidak hanya di beranda toko pinggir jalan, penganan buka puasa juga merambah resto dan kafe. Hal itu dapat dilihat dari berbagai penganan dan kue yang dijual di Waroenk Resto and Cafe, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang.

Sekadar diketahui, Waroenk Resto and Cafe atau lebih akrab disebut Waroenk Oebufu oleh penikmat kuliner di Kota Sasando, demikian julukan wilayah Kupang, merupakan induk jaringan kuliner yang membawahi Royal Bakery, Waroenk Seafood, Lorita Resto, dan Waroenk di Lt 2 Lippo Plaza Kupang yang dalam tahap renovasi.

Rencananya, Waroenk Lippo sendiri akan dibuka setelah ada imbauan Pemerintah terkait relaksasi atau amannya pengoperasian usaha publik.

Saat ditanyakan jenis kue maupun jajanan pasar favorit yang disukai pelanggan, Anita mengatakan banyak namun yang menonjol adalah Lalampa yang dibanderol sekitar Rp 8 ribu.

“Semuanya kami buat ‘fresh from the oven’. Jadi, bikin pagi dan jual petang langsung habis. Jadi tetap segar sampai di rumah pelanggan,” paparnya.

Sekadar diketahui, Lalampa adalah makanan ringan khas Manado. Di NTT, diaspora Manado yang bermukim di Kupang, diklaim mengenalkan makanan tersebut selain jenis makanan kecil lainnya yang dibawa para perantau dari Jawa.

Serupa Lemper yang berisi suwiran daging atau ayam, Lalampa ini sejatinya adalah lemper namun berisi suwiran ikan cakalang yang diisi dalam segumpalan beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar.

Sajian unik khas Manado ini, sepintas memang mirip Lemper Jawa dan Gogos di Sulawesi Selatan yang polos, namun yang membedakannya itu tadi yaitu isiannya yang berbeda. Selain itu, lemper tidak dibakar seperti Lalampa, tetapi hanya dikukus.

Sebelum dibakar, Lalampa akan diolesi terlebih dulu dengan minyak sayur. Inilah yang membuat Lalampa jadi lebih istimewa. Aromanya juga terasa lebih kuat dan meresap hingga ke dalam.

Masyarakat biasanya menyantap Lalampa selagi hangat, sembari menyeruput teh manis atau kopi. Bagi penikmat kuliner Nusantara yang menyukai sajian berbahan dasar ikan, kudapan lezat ini sangat cocok sebagai pelengkap minum teh atau kopi di sore hari, apalagi jika disantap selagi hangat.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar