WHO Imbau Waspadai Sindrom Baru Corona yang Rentan Intai Anak-anak

Mortalitas Corona, WHO Bilang Virus Ini Mungkin Tak Akan Punah dari Bumi
World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), memperingatkan kepada publik dunia terkait mortalitas virus SARS-CoV-2 dari keluarga novel coronavirus disease 2019 (Covid-19). (Ist)

Terkini.id, Kupang – Organisasi Kesehatan Dunia atau Word Health Organization (WHO) mengungkapkan tengah menyelidiki sindrom peradangan baru dan langka yang jangkiti ratusan anak-anak belakangan ini, diduga lantaran terpapar novel coronavirus disease (Covid-19).

Organisasi di bawah payung hukum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tersebut mengatakan, pihaknya tengah mengumpulkan lebih banyak data dari seluruh dunia guna lebih memahami sindrom. Sindrom itu sendiri diduga dapat menyebabkan beberapa kegagalan organ dan menyerupai sindrom syok toksik dan penyakit Kawasaki. Ini merupakan peradangan langka pada pembuluh darah yang biasanya mempengaruhi anak-anak kecil.

Anak-anak, sebut stakeholder WHO, belum dianggap sebagai kelompok berisiko tinggi untuk Covid-19, namum di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, jumlah kasus terhadap anak-anak sudah mencapai dua persen.

Anak-anak yang terinfeksi virus corona umumnya menunjukkan gejala yang lebih ringan ketimbang orang dewasa, dan tidak dianggap sebagai penular utama penyakit tersebut.

Sementara itu, sejauh ini hanya ada sejumlah kecil kasus sindrom inflamasi parah terjadi, sehingga WHO telah menyerukan layanan kesehatan di seluruh dunia untuk berbagi data terkait kasus-kasus potensial dari apa yang disebutnya sindrom inflamasi multisistem.

“Saya meminta semua dokter di seluruh dunia untuk bekerja dengan otoritas nasional Anda dan WHO untuk waspada serta lebih memahami sindrom ini kepada anak-anak,” terang Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dilansir Reuters, Senin 18 Mei 2020.

Adapun gejalanya meliputi demam, ruam, dan tanda-tanda peradangan pada tangan, mulut, atau kaki, hipotensi atau syok, masalah pencernaan, kelainan pada jantung atau pembuluh darah.

Laporan awal menunjukkan, sindrom itu mungkin terkait Covid-19, tetapi hal itu belum dikonfirmasi.

Hal itu seperti dilaporkan tenaga medis di sebuah rumah sakit di provinsi Bergamo Italia, terdapat 30 kali kenaikan kasus mirip penyakit Kawasaki dalam sebulan. Dari 10 pasien yang didiagnosis, delapan dinyatakan positif corona.

Semua delapan anak yang terinfeksi, selanjutnya dites positif antibodi Covid-19. Kemungkinan kasus lain, sebelumnya juga telah dilaporkan otoritas kesehatan di Perancis dan Spanyol.

Di AS, ditemukan 102 kasus anak-anak dengan gejala peradangan tersebut. Tiga di antaranya meninggal dunia

WHO melaporkan, spektrum dari penyakit tersebut masih belum jelas, dan belum pasti apakah distribusi geografis di Eropa dan Amerika Utara mencerminkan pola yang sebenarnya, atau apakah kondisinya belum diakui di tempat lain.

“Tidak ada yang mengharapkan untuk melihat ini (terjadi) terhadap anak-anak. Ini merupakan penemuan yang tidak terduga, tetapi kami hanya sekitar lima bulan setelah wabah masih relatif dini, kami masih belajar tentang (virus),” ungkap Sanjaya Senanayake, seorang spesialis penyakit menular dan profesor di Universitas Nasional Australia.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Implementasi Vaksinasi dan 3M Diklaim Bisa Cegah Covid-19, Ini Alasannya

Sosialisasi Esensialitas Vaksin Guna Tepis Skeptisme Terhadap Program Vaksinasi

Upaya Mereduksi Skeptisme Terkait Vaksin, Ini yang Dilakukan Pemerintah

Ini Fakta Pemerintah Siap Distribusikan Vaksin hingga ke Pelosok Negeri

Kunjungi Vihara Pubbaratana Kupang, Menag Fachrul Razi: Rawat Terus Toleransi di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar