Stimulus Kinerja Emiten, Kalbe Farma Siapkan Hedging 60 Juta Dolar AS

Stimulus Kinerja Emiten, Kalbe Farma Siapkan Hedging 60 Juta Dolar AS
Guna menstimulus kinerja emiten dalam perdagangan di pasar modal, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) senantiasa menyiapkan kas dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, apa yang dilakukan emiten terkait farmasi dan kesehatan itu merupakan sarana lindung nilai atau hedging. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Guna menstimulus kinerja emiten dalam perdagangan di pasar modal, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) senantiasa menyiapkan kas dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, apa yang dilakukan emiten terkait farmasi dan kesehatan itu merupakan sarana lindung nilai atau hedging.

“Kebijakan yang kami jalankan, selalu menyisihkan cadangan 50 juta dolar AS hingga 60 juta dolar AS,” ujar Direktur Utama KLBF Vidjongtius dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Sabtu 16 Mei 2020.

Menurutnya, secara berkala KLBF membeli dolar AS di bank. Nilainya disesuaikan biaya impor bahan baku yang sudah dilakukan pada periode sebelumnya. Sehingga, saldo cadangan dolar AS tetap terjaga.

Vidjongtius menambahkan, pihaknya belum berencana menambah saldo kas dalam dolar AS untuk tahun ini. Besaran yang sudah disiapkan, dinilai masih cukup untuk menghadapi fluktuasi kurs.

“Industri masih bisa menanggulanginya selama depresiasi dalam range normal,” katanya.

Memang, imbuh Vidjongtius, jika menilik kinerja keuangan kuartal pertama kemarin, KLBF masih bisa berkelit dari dampak depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Pada periode tersebut, margin laba kotor KLBF sebesar 45,16 persen hanya turun tipis dibanding kuartal pertama 2019 sebesar 46,55 persen.

“Ini artinya, tidak ada lonjakan beban pokok akibat depresiasi rupiah seperti yang sempat menjadi isu beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Adapun potensi tekanan kurs muncul, sebutnya, lantaran selama ini emiten farmasi masih mengimpor mayoritas bahan bakunya, terutama untuk produksi obat. Hal tersebut sejatinya berpotensi menekan kinerja keuangan ketika rupiah melemah.

“Beban pokok KLBF secara tahunan atau year on year (yoy) memang meningkat 10 persen. Kendati demikian, beban bahan baku KLBF secara konsolidasi justru turun 5,69 persen menjadi Rp 1,19 triliun kuartal pertama kemarin. Margin yang lebih rendah ada di divisi distribusi dan logistik,” kata Vidjongtius.

Beban pokok pada divisi tersebut memang naik 18,71 persen menjadi Rp 1,36 triliun. Kenaikan ini membuat laba kotor divisi distribusi dan logistik turun 0,03 menjadi Rp 435,88 miliar.

Sementara, beban pokok di divisi obat resep naik 0,6 persen. Namun, dengan penjualan yang meningkat lima persen, laba kotor KLBF dari divisi ini masih naik 4,8 persen menjadi Rp 754,37 miliar.

Terkait gross margin yang mencerminkan kondisi bisnis secara riil, secara kuartalan gross margin KLBF kuartal pertama kemarin justru lebih tinggi ketimbang kuartal empat 2019.

“Ini terjadi karena setiap kuartal selalu terjadi perubahan penjualan produk dari empat divisi yang kami miliki,” beber Vidjongtius.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Bank Indonesia Umumkan Penjualan Eceran April Turun 16,9 Persen

Layanan Remitansi Asal Indonesia Ini Ekspansi ke Eropa

Bos Sanrio Pencipta Hello Kitty Mundur, Wariskan Jabatan ke Cucunya

Saatnya Bersih-bersih Saham di Pasar Modal, Ini Alasannya

20 Persen Kredit Produktif BPR Berpotensi Terdampak Corona

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar