Ironi, Pemerintah Dianggap Tak Tegas Terapkan Pembatasan Terkait Corona

Ironi, Pemerintah Dianggap Tak Tegas Terapkan Pembatasan Terkait Corona
Ilustrasi pusat perbelanjaan. Ironi, demikian diungkap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyesalkan ketidaktegasan Pemerintah dalam pelarangan berkumpul di tempat umum di tengah pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19). (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Ironi, demikian diungkap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyesalkan ketidaktegasan Pemerintah dalam pelarangan berkumpul di tempat umum di tengah pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengungkapkan, kurang tegasnya Pemerintah terlihat dari pelarangan masyarakat berkumpul di masjid. Di sisi lain, ia menilai pemerintah tidak melakukan hal yang sama di tempat lain seperti bandara, tempat perbelanjaan, dan perkantoran.

“Perbedaan sikap ini, menjadi ironi di situasi seperti sekarang. Karena, usaha untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona menjadi tidak maksimal. Pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid, tetapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, mal, bandara, kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya,” kata Anwar dalam keterangan resminya, Minggu 17 Mei 2020.

Menurutnya, MUI sendiri telah menerbitkan fatwa agar umat Islam di daerah yang berada dalam tingkat penyebaran virus corona yang cukup tinggi atau Zona Merah, beribadah di kediaman masing-masing. Ia menyebut, langkah itu sudah tepat untuk membantu Pemerintah menekan laju penyebaran virus corona.

“Dalam fatwa tersebut, MUI juga menjelaskan, pada wilayah dan atau daerah yang penyebaran virusnya terkendali, umat Islam bisa menyelenggarakan salat Jumat dan salat berjemaah dengan memperhatikan protokol medis yang ada,” papar Anwar.

Baca juga:

Kendati demikian, menurutnya fatwa tersebut dijadikan instrumen Pemerintah guna mencegah orang berkumpul di masjid dalam melaksanakan salat Jumat dan salat berjemaah.

“Pada beberapa daerah, para petugas menggunakan pengeras suara mengingatkan masyarakat tidak berkumpul di masjid. Sebaliknya, di tempat-tempat lain seperti bandara, tempat perbelanjaan, dan lainnya justru tidak terlihat adanya aparat keamanan,” beber Anwar.

Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah tidak pandang bulu dalam menegakkan aturan. Apabila Pemerintah melarang orang untuk berkumpul di masjid, sebutnya, seharusnya hal yang sama juga diterapkan di lokasi lain.

“Tentu tujuannya adalah agar kita dapat memutus mata rantai penularan virus ini dengan cepat,” imbuh Anwar.

Komentar

Rekomendasi

Pendiri Twitter Jack Dorsey Akan Sumbangkan Semua Kekayaannya, Ini Alasannya

OJK NTT Serahkan Bantuan Senilai Rp 100 Juta kepada Pemkot Kupang

Pemerintah: Idul Fitri Jatuh pada Minggu 24 Mei

Wacana Peleburan Kelas BPJS Kesehatan, Ini Kata Kemenkeu

Member Secret Number Dita Karang, WNI Pertama Tembus Girlband Korea

Jangan Hanya Suka Selfie, Saatnya Jadi Fotografer Profesional

Sepele Tetapi Penting, Berikut Tips Diet Sehat Anti Galau

Terkait Aturan Larangan Mudik Lebaran, Pengamat Kebijakan Publik Ini Bilang Begini

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar