Ini Cara Restoran di Kupang Siasati Sepi Pelanggan Akibat Corona

Survei GAPMMI: Pengusaha Resistan Corona 6 Bulan, Ada yang 1 Bulan
Ilustrasi restoran di Kupang. Dari hasil survei internal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), lebih 30 persen produsen mengaku hanya bisa bertahan dengan kemampuan cashflow saat ini. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Dampak novel coronavirus disease 2019 (Covid-19) terhadap sendi perekonomian di Indonesia, juga tidak luput menggerus industri kuliner di Kota Kupang. Sebut saja restoran, rumah makan, bahkan warung-warung makan sekelas pedagang kaki lima (PKL) dan pushcart (gerobak asong).

Sekadar diketahui, sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan pembatasan-pembatasan terkait social distancing guna menekan penularan Covid-19 di NTT, termasuk di Kota Sasando, demikian sebutan wilayah Kupang, telah memukul hampir semua usaha kuliner, tidak terkecuali restoran subhotel dan level bintang yang telah beroperasi lama.

Pasalnya, pembatasan agak ketat dapat dilihat dari pelarangan makan di tempat yang dikeluarkan Pemprov NTT dengan tembusan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) masing-masing wilayah.

Meskipun belum menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemkot Kupang sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran pada 6 April 2020 lalu terkait pelarangan makan di tempat (dine in), kecuali untuk dibawa pulang (take away) atau pengantaran (delivery) kepada semua pengusaha kuliner.

Jika usaha kuliner partikelir seperti rumah makan dan warung masih sedikit resistan, maka restoran subhotel hampir dipastikan tutup mengikuti induk usaha hotel yang memang sudah sebagian besar tutup sementara dalam masa pandemi virus corona ini. Apalagi, awal Mei 2020 lalu Pemerintah pusat sempat menutup semua bentuk moda transportasi tidak terkecuali maskapai penerbangan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTT melansir, tingkat hunian hotel anjlok hingga mencapai 90 persen. Artinya, okupansi drop signifikan sehingga kamar-kamar yang terisi tamu tercatat hanya 10 persen.

Hal tersebut diungkapkan Ketua PHRI NTT Freddy Ongko Saputra kepada sejumlah wartawan di Kupang, Kamis 26 Maret 2020 lalu. Menurutnya, sentimen virus corona membawa dampak yang sangat besar terhadap sektor jasa perhotelan dan restoran di Kota Kupang.

Meskipun usaha sektor makanan masih resistan, tetapi tidak menutup kerugian yang dialami pelaku usaha di bidang kuliner. Pasalnya, seperti diungkapkan Marketing Communication and Public Relation Waroenk Group, Merlin Sinlae, upaya tersisa seperti take away tidak terlalu mumpuni meraup “cuan” dibandingkan operasional biasa dengan pelanggan makan di tempat.

“Kurang lebih tergerus 50-60 persen, bahkan bisa sampai 70 persen. Tetapi, kami masih tertolong penjualan lewat online dan aplikasi terafiliasi manajemen, yaitu GrabFood. Lewat penjualan ini, kami masih bisa berharap slot sekitar 30-40 persen,” terangnya saat disambangi Terkini.id di Waroenk Resto and Cafe, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Jumat 8 Mei 2020.

Merlin menguraikan siasat penjualan daring pihaknya, salah satunya memberikan bonus atau reward kepada driver GrabFood.

“Setiap pembelian minimal Rp 50 ribu dari pelanggan (dalam satu struk order), maka driver GrabFood bisa membeli makanan khusus yang kami jual, mie goreng atau nasi goreng, hanya dengan menambahkan Rp 10 ribu,” imbuhnya.

Reward yang diberikan pihaknya, sebut Merlin, untuk menggenjot penjualan daring di tengah lesunya pembelian dari pelanggan yang lebih memilih berdiam di rumah masing-masing mematuhi imbauan physical distancing dari Pemerintah.

Upaya lainnya, adalah memberikan bonus minuman kepada setiap pelanggan yang membeli menu kategori tertentu, seperti item rice bowl.

“Baik di Waroenk Oebufu maupun di Waroenk Seafood, kami memberi bonus Es Sarang Burung Cincau kepada setiap pelanggan yang membeli item rice bowl. Tidak hanya bonus, tetapi kami juga mendiskon beberapa menu minuman seperti Iced Vanilla Latte dan Virgin Mojito setiap membeli menu ‘Spaghetti’ dan ‘Japanes Toast’. Jadi, ini upaya stimulus di tengah lesunya daya beli pelanggan,” papar Merlin.

Sekadar bocoran, ia mengungkapkan, manajemen berlogo “Koki Berkumis” itu dalam waktu dekat bakal membuka cabang Waroenk di Lt 2 Lippo Plaza Kupang untuk memperluas pangsa pasar kuliner.

“Yang pasti, setelah pandemi virus corona ini mereda, atau paling tidak sudah ada imbauan Pemerintah untuk membuka kembali usaha secara normal,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar