Waisak dan Solidaritas Umat Buddha NTT di Tengah Musibah Corona

Terkini.id, Kupang – Soliter atau solidaritas dan semangat persatuan dalam tenggang rasa di tengah mewabahnya novel coronavirus disease 2019 (Covid-19), ditunjukkan umat Buddha di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan aksi sosial atau social responsibility membagikan sembako dan masker kepada warga yang terdampak virus corona.

“Bantuan kami berikan kepada masyarakat di sekitar lokasi pembangunan Vihara Pubbaratana di Kelurahan Sikumana, umat Gereja GMIT Anak Sulung dan Bukit Zaitun Sikumana, Gereja Katolik St Familia Sikumana, dan Pura Agung BTN Kolhua. Sementara, untuk umat Muslim, kami menyerahkannya ke Kanwil Kemenag NTT Bidang Islam,” terang Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) NTT Indra Effendy dalam pesan virtualnya kepada wartawan di Kupang, Kamis 7 Mei 2020.

Indra menjelaskan, bantuan yang diserahkan pihaknya pada Rabu 6 Mei 2020, memang ditujukan untuk perwakilan gereja, masjid, dan pura yang nantinya akan diserahkan secara door to door di rumah warga yang membutuhkan agar menghindari kerumunan.

Baca Juga: Vaksin Diklaim Dapat Tekan Potensi Lahirnya Varian Baru Covid-19, Ini...

“Tetapi, ada juga yang kami serahkan langsung selain menyerahkan melalui pihak atau pengurus gereja agar tidak memicu kerumunan warga,” ungkapnya.

Indra mengatakan, sebisa mungkin bantuan pihaknya dapat mengakomodir semua umat lintas agama, khususnya yang terdampak Covid-19.

Baca Juga: Pakai Masker Harga Mati! Ini Alasan Pemda Luar Jawa-Bali Harus...

Meskipun perayaan Waisak di tahun ini berbeda lantaran dilaksanakan di rumah masing-masing dan secara nasional digelar secara virtual di akun Youtube Channel Shangha Theravada Indonesia (STI) di Medkom STI, tetapi menurut Indra, hal itu tidak mengurangi makna kebersamaan umat Buddha.

“Memang tahun ini perayaan Waisak sangat berbeda, tetapi semangat dan niat kami untuk berbagi kasih dan merayakan Waisak tidak luntur,” ujarnya.

Semangat berbagi itu pulalah yang diimplementasikan pihaknya sesuai tema hari raya Waisak 2564 BE/2020, “Persaudaraan Sejati Dasar Keutuhan Bangsa”.

Baca Juga: Terjadi Lonjakan 61,08 Persen Kasus Covid-19 di Luar Jawa-Bali, Pemerintah...

Menurut Indra, inti dari persaudaraan sejati yang menjadi dasar bagi keutuhan bangsa, selama ini juga telah ditunjukkan pihaknya dalam bentuk solidaritas antarumat beragama di NTT.

“Semangat berbagi umat Buddha secara umum terhadap umat yang berbeda keyakinan tidak luntur. Sebagaimana biasanya, jelang Waisak kami juga melaksanakan aksi serupa yaitu berbagi kasih yang disebut Safari Waisak,” katanya.

Umat Buddha di Kota Kupang, sebut Indra, biasanya merayakan Waisak dengan pujabakti, doa dan meditasi bersama di Lt 3 Gedung Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Jalan El Tari. Pasalnya, Vihara Pubbarata di Kelurahan Sikumana dalam proses pembangunan.

Hingga saat ini, vihara yang saat ini diketuai Yan Sigar tersebut masih dalam proses pembangunan sejak peletakan batu pertama pada Juli 2017 yang dilakukan Frans Lebu Raya kala masih menjabat Gubernur NTT.

“Kali ini, kami tidak melaksanakan pujabakti bersama memperingati Waisak seperti biasanya. Soalnya, kami mematuhi kebijakan social distancing dari Pemerintah untuk menghindari penularan virus corona,” beber Indra.

Ia menambahkan, di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah menginstrusikan semua kegiatan terkait peribadatan ditiadakan, termasuk perayaan Waisak baik nasional maupun regional di wilayah masing-masing.

“Jadi tidak ada perayaan (Waisak) yang dilakukan secara bersama. Kami taat pada instruksi (social distancing) Pemerintah, untuk tidak mengumpulkan banyak orang termasuk di tempat ibadah,” kata Indra.

Sekadar diketahui, Magabudhi NTT dibentuk pada 24 Desember 2014. Sebelumnya, di kota besar lainnya di Tanah Air, Magabudhi sudah lebih dulu terbentuk. Pasalnya, pembinaan terhadap organisasi keagaaman baik dari Pemerintah maupun lembaga agama sudah lebih dulu berjalan.

Indra memaparkan, awalnya Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu dan Buddha di Kementerian Agama (Kemenag) NTT digabung menjadi satu. Namun, setelah ada nomenklatur yang baru perihal pemisahan Bimas Hindu dan Buddha di Kemenag NTT, hadir seorang Pembimas Buddha untuk melayani umat Buddha di daerah ini.

Menurut Indra, dengan adanya Pembimas Buddha yang saat ini dijabat Artadi Wijaya, diharapkan kegiatan kerohanian dan keagaamaan umat Buddha dapat menjadi fokus Pemerintah. Begitu juga terhadap organisasi induk keagamaan di pusat, dalam hal ini Magabudhi pusat.

Bagikan