Lantaran Corona, Impor Barang dan Jasa Terkontraksi 2,19 Persen di Kuartal Pertama 2020

Terkini.id, Kupang – Dampak destruktif novel coronavirus disease 2019 (Covid-19) terhadap tatanan kehidupan, terutama ekonomi masyarakat di Tanah Air, menyebabkan banyak proyeksi pertumbuhan di sektor industri terpaksa digugurkan.

Penularan masif virus corona juga menekan pertumbuhan impor barang dan jasa di kuartal pertama 2020. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat impor barang dan jasa terkontraksi atau terjadi penurunan sebesar 2,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Kendati demikian, kontraksi saat ini dalam fase yang sama, jauh lebih baik ketimbang kontraksi di kuartal pertama 2019 yang sebesar 7,47 persen yoy.

Baca Juga: Vaksin Diklaim Dapat Tekan Potensi Lahirnya Varian Baru Covid-19, Ini...

“Kontraksi impor barang dan jasa disebabkan impor barang dan impor jasa yang masing-masing mengalami kontraksi. Tetapi, impor jasa terkontraksi lebih dalam,” terang Kepala BPS Suhariyanto dalam siaran pers yang dilakukan secara virtual di Jakarta, Selasa 5 Mei 2020.

Ia merincikan, impor barang tercatat kontraksi 1,00 persen yoy. Kendati begitu, kontraksinya membaik dari kuartal pertama tahun lalu yang mencapai 8,42 persen yoy.

Baca Juga: Pakai Masker Harga Mati! Ini Alasan Pemda Luar Jawa-Bali Harus...

“Impor barang nonminyak dan gas (migas) tercatat mengalami kontraksi 3,81 persen yoy, atau membaik dari kontraksi kuartal pertama 2019 yang sebesar 5,35 persen yoy. Ini seiring penurunan impor besi dan baja, plastik dan barang dari plastik, serta kendaraan dan bagiannya (sparepart),” imbuh Suhariyanto.

Adapun impor migas, sebutnya, tercatat tumbuh positif 15,93 persen yoy. Hal itu seiring peningkatan nilai dan volume impor migas di kuartal pertama 2020. Padahal, sejatinya di kuartal pertama tahun lalu impor migas terkontraksi 23,34 persen yoy.

“Selain itu, penurunan harga minyak dunia pada Maret 2020 juga mempengaruhi peningkatan volume impor migas,” kata Suhariyanto.

Baca Juga: Terjadi Lonjakan 61,08 Persen Kasus Covid-19 di Luar Jawa-Bali, Pemerintah...

Sementara itu, impor jasa tercatat mengalami kontraksi 9,57 persen yoy. Penurunan ini, ujarnya, jauh lebih dalam dari kontraksi di kuartal pertama 2019 yang sebesar 1,14 persen yoy. Menurutnya, capaian itu sejalan dengan menurunnya jumlah penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Penyebab utamanya adalah adanya pelarangan umrah (dari Pemerintah Arab Saudi) sejak Februari 2020 akibat Covid-19 yang mulai mewabah masif (kala itu). Penutupan pintu masuk di beberapa negara yang melakukan lockdown, juga mempengaruhi (aktivitas perjalanan) sehingga jumlah perjalanan ke luar negeri turun,” ulas Suhariyanto.

Bagikan