Waspada, Komunal Peneliti Amerika Ungkap Physical Distancing Bisa Sampai 2022

Usulan PSBB Bisa Jadi Solusi Covid-19, Permenkes No 9 Atur Tata Caranya
Ilustrasi physical distancing. Komunal atau gabungan peneliti dari Harvard TH Chan School of Public Health di Amerika Serikat (AS), memproyeksi atau memperkirakan kebijakan physical distancing (jaga jarak fisik) harus diperpanjang hingga 2022. Pasalnya, menurut para peneliti tersebut hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien yang terpapar novel coronavirus disease (Covid-19). (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Terkini.id, Kupang – Komunal atau gabungan peneliti dari Harvard TH Chan School of Public Health di Amerika Serikat (AS), memproyeksi atau memperkirakan kebijakan physical distancing (jaga jarak fisik) harus diperpanjang hingga 2022.

Pasalnya, menurut para peneliti tersebut hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien yang terpapar novel coronavirus disease (Covid-19).

Pasalnya, menurut para peneliti tersebut hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien yang terpapar novel coronavirus disease (Covid-19).

“Kebijakan jaga jarak kemungkinan perlu dilakukan hingga 2022, kecuali sudah ada pengobatan dan vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19,” ungkap salah seorang peneliti Marc Lipsitch kepada wartawan, seperti dilansir CNN News, Kamis 16 April 2020.

Selain itu, studi juga menunjukkan pandemi virus corona yang bernama ilmiah SARS-Cov-2 berpotensi akan terus muncul kendati kebijakan lockdown telah dicabut.

Menarik untuk Anda:

“Pengawasan harus lebih ketat lantaran virus ini dapat muncul kembali dan menyebar hingga 2024,” pesan Lipsitich.

Oleh karena itu, para peneliti berpendapat tes Covid-19 perlu ditingkatkan secara masif di suatu negara untuk menentukan ambang batas kebijakan physical distancing.

Akan tetapi, jika obat dan vaksin telah tersedia, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk melonggarkan durasi lockdown.

Para peneliti saat ini tengah mengkaji lebih jauh seberapa kebal mantan pasien positif Covid-19 pada virus yang sama, karena dikhawatirkan orang tersebut bakal kembali terjangkit.

Berdasarkan jurnal yang ditulis peneliti berjudul “Projecting The Transmission Dynamics of SARS-CoV-2 Through The Postpandemic Period”, kemungkinan kekebalan imun mantan penderita Covid-19 hanya dapat bertahan selama satu tahun tetapi ini harus diidentifikasi lebih lanjut.

Tim peneliti Harvard kembali menegaskan, virus corona baru tidak berhenti pada gelombang awal saja, berkaca pada kasus wabah SARS yang terjadi pada 2002-2003 seperti dilansir Science Alert.

Di Tiongkok, terdapat penemuan 89 kasus baru virus corona saat negara berjuluk “Negeri Tirai Bambu” tersebut tengah berupaya mencegah gelombang kedua pandemi.

Seperti diketahui, Komisi Kesehatan Nasional di Tiongkok melaporkan hampir semua kasus baru itu merupakan kasus “impor”, yaitu penularan virus dari warga yang baru datang dari luar negeri.

Data jumlah kasus infeksi virus corona di seluruh dunia hingga 15 April 2020 telah mencapai 1.997.620 orang. Korban meninggal lantaran Covid-19 sebanyak 126.596 jiwa dan 478.425 pasien dinyatakan sembuh.

Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus dan kematian terbanyak yaitu 26.047 orang. Sementara, pasien positif sebanyak 613.886 orang dan 38.820 telah dinyatakan sembuh.

Sebelumnya, Korea Selatan merupakan negara yang paling terdampak virus corona di Asia. Negara ini memiliki 10.564 kasus positif, 222 orang meninggal, dan 7.534 orang sembuh.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Lingkaran Setan Hoaks, Paradoks yang Perparah Pandemi Covid-19

Ini Strategi Pemerintah Siapkan Faskes Khusus Penyintas Corona

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar