Dampak Corona, Penjualan Global McDonalds Tertekan 22,2 Persen di Kuartal Pertama

Terkini.id, Chicago – Krisis terkait kesehatan dunia lantaran pandemi Covid-19 memukul korporasi kapital McDonalds Corp, paling tidak hingga tiga bulan pertama 2020.

Penjualan makanan cepat saji itu secara parsial turun 22,2 persen pada Maret 2020, seperti yang dilansir Reuters pada Kamis 9 April 2020.

McDonalds memangkas proyeksi penjualan sepanjang tahun ini karena penerapan lockdown di berbagai wilayah yang memaksa stakeholder menutup gerai sementara.

Baca Juga: Tak Henti Berseru Prokes Harga Mati, Pemkot Kupang Akui 70...

Kendati begitu, rantai burger global ini tetap memberikan layanan pengiriman (delivery) atau pengambilan (take out).

McDonalds Corp mencatat, penjualan pada kuartal pertama ini senilai 6,5 miliar dolar AS. Mereka juga mengumumkan akan menangguhkan buyback saham untuk meningkatkan cadangan kasnya.

Baca Juga: Greysia Polii Sudah Divaksin, Bukti Atensinya Terhadap Upaya Eradikasi Covid-19

Ini memberikan pembaruan, termasuk hasil penjualan triwulanan, menjelang pengumuman pendapatan yang direncanakan pada 30 April 2020 mendatang.

Pada Maret 2020 di Amerika Serikat (AS), ketika kasus Covid-19 mulai merebak, penjualan McDonalds turun 13,4 persen. Pasalnya, pihak berwenang meminta warga untuk tinggal di rumah dan menutup akses bagi warga untuk makan di tempat di berbagai restoran dan kafe guna menekan penyebaran virus.

Hingga saat ini, virus berakronim novel coronavirus disease 2019 ini telah menginfeksi lebih 1,3 juta orang di dunia, dan merenggut 81 ribu jiwa secara global.

Baca Juga: Lepas PPKM Level 4 Diperpanjang Setelah 2 Agustus, Kepatuhan Prokes...

“Sekitar 75 persen dari 38 ribu restoran McDonalds di seluruh dunia beroperasi selama kuartal tersebut. Sebagian besar diadaptasi untuk fokus pada drive-thru, pengiriman, atau dibawa pulang (take away),” terang Chief Executive Officer (CEO) McDonalds Chris Kempczinski di Chicago, AS.

Ia menambahkan, situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengubah dunia tempat manusia hidup. Ia menilai, manusia perlu beradaptasi dengan realitas baru pasca wabah.

Penurunan tajam pada Maret 2020, menyebabkan penurunan 3,4 persen dalam penjualan yang sebanding untuk tiga bulan, yang berakhir pada 31 Maret 2020 secara global. Ini dibandingkan penurunan rata-rata yang diproyeksi para analis, seturut data IBES dari Refinitiv.

Kendati begitu, beberapa broker yang disurvei Refinitiv belum memperbarui proyesi mereka untuk memasukkan dampak virus corona dalam konsensus.

Namun, analis Wall Street mengungkapkan penjualan yang kuat pada awal kuartal, ketika penjualan gerai yang sama secara global naik 7,2 persen, bisa berarti perusahaan akan segera pulih.

“Pembaruan bisnis menyiratkan McDonalds memiliki posisi yang baik untuk recovery. Pada akhirnya, setelah momentum Januari 2020 atau Februari 2020,” kata analis BMO Capital Markets Andrew Strelzik.

McDonalds mengatakan, akan menunda sewa dan royalti untuk pemegang waralaba, yang sudah menghadapi kesulitan lantaran wabah dan dibebani dengan biaya lain, seperti renovasi restoran sebagai bagian dari dorongan perusahaan untuk memodernisasi gerai.

Perusahaan berlogo khas itu mengatakan, mereka mengharapkan dapat mengurangi pengeluaran modal sekitar satu miliar dolar AS untuk 2020, karena lebih sedikit renovasi gerai di AS dan lebih sedikit pembukaan restoran di seluruh dunia.

McDonalds mengatakan, pembatalan Konvensi Pemilik atau Operator Sedunia karena krisis kesehatan dapat menelan biaya sekitar 40 juta dolar AS karena refund atau pengembalian uang.

Saham perusahaan yang berbasis di Chicago ini ditutup hampir dua persen, lebih tinggi di tengah bouncing di pasar yang lebih luas.

Bagikan