Lockdown Berdasar Gender, Presiden Peru Imbau Militer Tak Homofobia

Terkini.id, Lima – Banyak negara telah memberlakukan lockdown atau penguncian wilayah. Tentu, tujuannya untuk meminimalisir penularan novel coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Formulasi penerapan karantina, baik parsial maupun isolasi terbatas, dilakukan sesuai kondisi di wilayah masing-masing negara terkait.

Salah satu negara di Amerika Latin Peru, penerapan lockdown terbilang “unik”. Pasalnya, Presiden Peru Martin Vizcarra mengumumkan aturan baru selama lockdown, Pemerintah hanya mengizinkan wanita dan pria keluar rumah di hari yang berbeda. Hal tersebut, menurut Vizcarra, bertujuan untuk membatasi pergerakan publik.

Baca Juga: Tak Henti Berseru Prokes Harga Mati, Pemkot Kupang Akui 70...

Aturan baru itu, pemisahan berdasar gender, mulai berlaku Kamis 2 April 2020 selama masa lockdown berlangsung pada 16 Maret 2020 lalu. Aturan keluar rumah berdasar pembatasan gender ini akan diberlakukan hingga 12 April 2020 mendatang.

Seperti dilansir AFP, Jumat 3 April 2020, Vizcarra menyebut selama ini kebijakan lockdown di Peru belum menunjukkan hasil maksimal. Oleh karena itu, pembagian jadwal keluar rumah dilakukan untuk mengurangi jumlah orang berada di luar ruangan pada waktu bersamaan.

Baca Juga: Greysia Polii Sudah Divaksin, Bukti Atensinya Terhadap Upaya Eradikasi Covid-19

“Langkah-langkah pengendalian (yang diterapkan) telah memberikan hasil yang baik, tetapi bukan apa yang diharapkan,” ungkap Vizcarra, seperti dikutip dari AFP, Jumat 3 April 2020.

Pemerintah Peru juga menurunkan militer dan pasukan pengamanan bersenjata untuk berpatroli di jalan-jalan selama kebijakan lockdown berlangsung.

Aturan pembatasan keluar rumah menurut gender di antaranya, pria diperbolehkan keluar rumah pada Senin, Rabu, dan Jumat. Sementara, wanita diizinkan keluar rumah pada Selasa, Kamis, dan Sabtu. Adapun untuk Minggu, semua warga dilarang bepergian dan hanya bisa berdiam di dalam rumah.

Baca Juga: Lepas PPKM Level 4 Diperpanjang Setelah 2 Agustus, Kepatuhan Prokes...

“Kami hanya memiliki 10 hari tersisa, mari melakukan upaya ekstra untuk mengendalikan penyakit ini,” pesan Vizcarra.

Kendati demikian, pasukan pengamanan diimbau menghormati identitas gender bagi orang-orang homoseksual dan transgender.

“Angkatan bersenjata dan polisi telah diperintahkan untuk tidak memiliki sikap homofobia,” tegas Vizcarra.

Kebijakan tersebut, berlaku bagi semua orang kecuali pekerja di sektor pelayanan penting seperti toko perbelanjaan, bank, apotek, dan rumah sakit.

Menurut AFP, Pemerintah Peru menilai pembatasan keluar rumah berbasis gender telah menunjukkan hasil yang positif di negara lain. Untuk itu, Peru ingin mengadopsi sistem yang sama yang telah diterapkan.

Sekadar diketahui, sejak Rabu 1 April 2020, Pemerintah Panama juga menerapkan aturan lockdown serupa dengan akan membatasi pergerakan publik berdasarkan jenis kelamin. Pembagian jadwal keluar rumah itu juga diterapkan untuk membatasi jumlah orang yang berada di luar ruangan.

Mengutip AFP, hingga Kamis 2 April 2020, lebih 1.400 kasus virus corona tercatat di Peru. Adapun kasus yang dinyatakan meninggal sebanyak 55 orang.

Bagikan