Ini Penyebab Kasus Covid-19 di Amerika Serikat Melebihi Tiongkok

Terkini.id, New York – Amerika Serikat (AS) saat ini memiliki kasus positif corona atau novel coronavirus disease 2019 (Covid-19) terbanyak di dunia. Angkanya melebihi Tiongkok sebagai episentrum awal, Italia, juga Korea Selatan yang menjadi hotspot virus corona.

Pada Jumat 27 Maret 2020, data dari Worldometer menyebutkan, jumlah kasus di AS adalah sebanyak 85.377. Angka tersebut jauh melampaui Tiongkok dengan jumlah 81.340 kasus, juga Italia dengan jumlah 80.589 kasus. Lebih dari 1.296 warga AS meninggal dunia lantaran novel coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Mengapa hal itu bisa terjadi, beberapa pakar mengungkapkan hal utama yang menyebabkan tingginya angka positif Covid-19 adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang terlambat.

Baca Juga: Ini Upaya Penyelenggara Bimas Buddha Kupang Bentengi Keluarga dari Destruksi...

Profesor sekaligus direktur dari Center of Sustainable Development di Columbia University, Jeffrey Sachs menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara Tiongkok dan AS dalam penanganan kasus virus corona.

“Tiongkok telah memutuskan rantai virus dengan adanya lockdown yang berawal di Wuhan, Hubei pada 23 Januari 2020 lalu. Sekarang, hanya bertambah beberapa lusin kasus setiap harinya,” beber Sachs seperti dikutip dari artikel opininya di CNN, Jumat 27 Maret 2020.

Baca Juga: Percepat Tercapainya Herd Immunity, Wali Kota Kupang Perintahkan Lurah-Camat Data...

Menurutnya, AS tidak memutuskan rantai penyebaran. Ia mengatakan, Trump sangat terlambat menangani hal ini. Bahkan dengan analisis dari para ilmuwan, AS mungkin akan menghadapi 81 ribu kematian pada Juli 2020 mendatang.

Analisis tersebut dilakukan Institute of Health Metrics and Evaluation di University of Washington di Seattle.

“Trump memiliki tanggung jawab langsung terhadap ketidaksiapan AS dan kegagalannya menghadapi pandemi. Begitu virus corona masuk, Trump mengindahkannya,” ujar Sachs.

Baca Juga: Ini Peran Kesbangpol dalam Upaya Penanggulangan Covid-19 di NTT

Pengujian yang terlambat, menurut ahli virologi dari Columbia University di New York, Angela Rasmussen, mengungkapkan tingginya angka kasus Covid-19 sebenarnya bisa dicegah jika pengujian dilakukan lebih awal dan pengawasan dilakukan lebih ketat.

“Jika kasus yang ditemukan sekarang saja sebanyak ini, berapa banyak yang belum ketahuan?” tuturnya seperti dikutip dari New York Times.

Rassmussen mencontohkan, saat wabah dimulai di Tiongkok, negara tersebut bertindak cepat dengan melakukan lockdown, bahkan membangun rumah sakit khusus Covid-19 dalam hitungan hari.

“Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang juga langsung bertindak untuk mengantisipasi hal terburuk,” katanya.

Namun, sebut Rassmussen, sejak ditemukannya kasus positif Covid-19, AS tetap berkutat pada bisnis seperti hari-hari biasanya.

“Beberapa agenda bahkan dilakukan juga, (Piala) Oscars misalnya,” imbuhnya.

Usai virus corona mewabah ke berbagai penjuru dunia, bahkan AS dinilai tidak siap dalam hal sistem medis dan fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes). Padahal, AS memiliki The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menjadi insititusi medis terbaik dunia.

Para dokter CDC telah memiliki andil dalam mewabahnya ebola, zika, dan beberapa penyakit lainnya.

“Namun CDC tampak diam. Direkturnya, Dr Robert Redfield, bahkan hampir tak terlihat,” tutur Rasmussen.

Kegagalan lainnya, juru bicara Gedung Putih untuk kasus Covid-19, Dr Anthony Fauci, menyebutkan dengan jelas pengujian kasus virus corona di AS menunjukkan failure atau kegagalan.

Seperti dilansir The Guardian, kegagalan tersebut disebabkan beberapa hal. Pertama adalah kesalahan CDC dalam menyusun urutan pengujian, berujung pada penafsiran material yang salah.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah bottleneck (kemacetan), dengan seluruh negara bagian harus mengirimkan sampel ke kantor pusat CDC di Atlanta. Banyaknya sampel ini membuat hasil tes keluar lebih lama.

Pemerintah pusat juga memiliki kontrol besar. Pemerintah AS tidak mengizinkan laboratorium swasta untuk melakukan pengujian. Kriteria untuk pengujian dibuat sangat sulit.

Saat ini, sekitar 160 juta warga AS mulai dari California hingga New York diimbau untuk tinggal di rumah. Sekolah, restoran, dan bar ditutup.

“Kami adalah episenter global baru penyakit ini,” kata Spesialis Penyakit Menular di Johns Hopkins Medicine, Dr Sara Keller

Menurutnya, saat ini yang bisa dilakukan warga AS adalah tetap di rumah selama mungkin.

“Sementara itu, Pemerintah harus memproduksi lebih banyak alat pelindung diri (APD), alat pengujian, dan ventilator untuk rumah sakit,” imbuh Keller.

Bagikan