Dampak Covid-19, ASITA NTT Sebut Pariwisata Babak Belur

Dampak Covid-19, ASITA NTT Sebut Pariwisata Babak Belur
Ketua ASITA NTT Abed Frans. Merebaknya virus corona atau novel coronavirus 2019 (Covid-19) di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerugian terparah sepanjang sejarah keberadaan induk organisasi yang memayungi perjalanan wisata atau terkait travel lainnya. (Ist)

Terkini.id, Kupang – Merebaknya virus corona atau novel coronavirus 2019 (Covid-19) di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerugian terparah sepanjang sejarah keberadaan induk organisasi yang memayungi perjalanan wisata atau terkait travel lainnya.

“Jumlah kerugian per travel agent atau tour operator bisa puluhan juta hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah,” ungkap Ketua ASITA NTT Abed Frans, ketika dikonfirmasi wartawan terkait dampak Covid-19 terhadap dunia pariwisata di Kupang, Selasa 24 Maret 2020.

Sejatinya, ungkap Abed, semua anggota ASITA memiliki kendala teknis dan keluhan masing-masing terkait dunia usaha pariwisata. Kendati demikian, musibah terkait Covid-19 dirasakan merupakan momentum terparah yang pernah dihadapi ASITA NTT.

“Tetapi, ASITA NTT harus mendukung pemerintah dengan mengimbau semua masyarakat agar tetap di rumah dulu sampai badai ini berlalu,” katanya.

Intinya, ungkap Abed, semua stakeholder pariwisata saat ini sedang babak belur. Untuk kerugian, tentunya bervariasi tergantung dari banyaknya tamu dan kelas perjalanan yang telah di-booking tamu masing-masing

Ia mengatakan, semua anggota ASITA sadar keselamatan manusia lebih penting dibanding berapapun kerugian yang dialami.

“Kami sendiri sebagai tour operator juga mengalami kerugian pembatalan di level ratusan juta dalam kurun waktu Januari 2020 hingga April 2020 mendatang,” beber Abed.

Oleh karena itu, ia berharap yang terbaik dari pemerintah. Di banyak daerah yang ia dengar, banyak terjadi kelangkaan sarana seperti alat pelindung diri (APD), alkohol, masker, bahkan tenaga kesehatan. Hal tersebut perlu diusahakan pemerintah guna kelancaran pelayanan di daerah-daerah. Selain itu, tentu saja kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap instruksi pemerintah untuk social distancing.

“Hal itu perlu diimplementasikan demi cepatnya badai ini berlalu, dan kita sesegera mungkin bisa bekerja normal kembali,” harap Abed.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Misteri di Lubang Hitam, Astronom Temukan Benda Usia 780 Juta Tahun Cahaya

New Normal 15 Juni, Kantor Imigrasi Mulai Buka Pelayanan Paspor

57 Kasus Corona Korea Selatan Berasal dari Kluster Baru Seoul

Ini Alasan IGI Usulkan Tahun Ajaran Baru Diundur ke Januari 2021

Ketua Magabudhi NTT Bilang Tak Ingin Tergesa Sikapi Wacana Pembukaan Tempat Ibadah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar