Dunia Usaha Tersentimen Covid-19, Ini Pesan Dosen Ekonomi Unhas Makassar

Terkini.id, Makassar – Situs nilai mata uang dunia, Moningstar for Currency and Coinbase for Cryptocurrency, Kamis 19 Maret 2020 pagi melansir, mata uang rupiah terkoreksi cukup signifikan dan berada di angka 16,090,50 poin atau sekitar Rp 16.090.

Sentimen negatif akibat virus corona yang mewabah di Indonesia, menimbulkan efek psikologis anomali dalam dunia bisnis dan ekonomi dari kacamata makro dan mikro.

Menyikapi hal tersebut, Dosen Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, A Nur Baumassepe menyampaikan, di tengah kondisi ketidakpastian dan kecemasan dalam dunia usaha, sebaiknya pelaku Usaha Kecil Menengan (UKM) memiliki strategi usaha agar dapat bertahan.

Baca Juga: Ini Upaya Penyelenggara Bimas Buddha Kupang Bentengi Keluarga dari Destruksi...

Nur memaparkan, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah sikap konsumen yang cenderung permisif atau kerap berubah.

“Sikap konsumen (sering) berubah. Masyarakat saat ini dipaksa untuk memperketat pos-pos pengeluaran rumah tangga. Pasalnya, daya beli mereka terganggu. Tentu, mereka akan menyesuaikan kembali daya belinya,” urainya di Makassar, Kamis 19 Maret 2020.

Baca Juga: Percepat Tercapainya Herd Immunity, Wali Kota Kupang Perintahkan Lurah-Camat Data...

Untuk itu, ia mengimbau pelaku UKM untuk membuat produk yang lebih hemat dan kemasan yang efisien. Tetapi, sebelumnya perlu mengedukasi pelanggan terkait langkah efisiensi tersebut,” paparnya.

“Seperti kita ketahui, saat ini biaya operasional terus meningkat, usaha harus efisien. Modal kerja harus terjaga hingga enam bulan ke depan,” imbuh Nur.

Selain pemangkasan biaya operasional, pelaku usaha juga harus mulai mengurangi budget iklan, menggunakan bahan baku seefisien mungkin, menegosiasi supplier untuk pembayaran, dan memanfaatkan penjualan online.

Baca Juga: Ini Peran Kesbangpol dalam Upaya Penanggulangan Covid-19 di NTT

“Bila ada kredit usaha, negosiasilah bank itu untuk membayar utang pokok saja. Langkah itu sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ungkap Nur.

Ia juga mengimbau agar pelaku usaha dapat lebih efisien, dengan menjaga ketersediaan cash flow.

“Jika kas (dana kas) masih selalu kosong, atau lebih mudah dipahami uang di dompet selalu habis, ini bisa jadi karena utang usaha terlalu banyak dan lebih besar dari pemasukan,” jelas Nur.

Untuk itu, sebutnya, saatnya pelaku usaha menjual saja aset pribadi untuk menutupi sebagian utang. Adapun aset yang bisa dijual adalah yang bersifat konsumtif dan tidak memiliki keterkaitan dengan kontribusi aset usaha.

“Ini penting agar pelaku usaha punya napas panjang (survive) sampai badai virus corona berlalu. Juga agar dapat tetap membanyar gaji pegawai, modal untuk beli bahan baku, tetap berproduksi agar konsumen dapat terus membeli produk si pelaku usaha,” kata Nur.

City Coordinator International Council of Small Business (ICSB) Indonesia chapter Makassar ini juga menyampaikan pelaku usaha harus mengdiferensiasi produknya.

“Bila produk usaha berada di level premium dan menyasar segmen atas, buatlah diferensiasi atau perbedaan varian produk yang sifatnya murah tetapi tetap berkualitas,” tambah Nur.

Tujuannya, lanjut Nur, agar kosumen tidàk berpindah ke pihak kompetitor. Sebaliknya, langkah diferensiasi tersebut akan membuat konsumen pesaing berpindah ke si pelaku usaha.

Terkait merebaknya Covid-19, ia mengimbau agar pelaku usaha jangan lupa menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

“Sebagus apapun usaha dan produk pelaku usaha, bila ownernya sakit tentu juga akan berpengaruh pada produktivitas usaha. Parahnya, bisa saja usaha malah tidak berjalan,” kata Nur

Ia juga berharap, isu virus corona sudah dapat diatasi pemerintah. Selain itu, seturut kontekstual yang dikemukakannya, Nur berpesan agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar musibah mewabahnya Covid-19 dapat segera berlalu.

Bagikan