Mengenal Virus African Swine Fever yang Merebak di NTT

Terkini.id, Kupang – African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular, bisa menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar khususnya bagi peternak babi. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.

Kasus teraktual kematian ternak babi akibat virus dari Benua Afrika ini terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) NTT yang merupakan unsur pelaksana pada Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyebutkan, hingga Kamis 11 Maret 2020, ada 3.162 ternak babi se-NTT yang mati lantaran virus ASF. Jika tidak ditangani dengan cepat, 57.653 ekor populasi babi dapat terancam wabah yang juga sering disebut “Demam Babi Afrika” ini.

Seperti dilansir dari situs pertanian.go.id, ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), sehingga produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Baca Juga: Semringah, Ada 426 Penyintas Covid-19 di NTT yang Sembuh dalam...

Untuk mengetahui penyakit tersebut, dapat dilihat dari tanda-tanda klinis fisik ternak babi seperti kemerahan di bagian perut, dada, dan scrotum. Ternak babi juga biasanya mengalami diare berdarah dengan ciri-ciri tepi daun telinga yang kemerahan.

Selain itu, ternak babi juga mengalami demam sekitar 41 derajat Celsius, dengan gejala konjungtivitas, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, dan kadang-kadang muntah serta diare atau sembelit.

Baca Juga: Implementasi Sosial Umat Buddha untuk Kemanusiaan dalam Peduli Bencana NTT

Pendarahan kulit sianosis juga dialami ternak babi, dengan gejala psikologis tertekan, terlentang, kesulitan bernapas, dan enggan makan.

Virus ASF dapat menyebar melalui kontak langsung ternak babi dengan serangga yang sudah terpapar virus, peralatan peternakan, dan pakan yang terkontaminasi.

Untuk babi yang terkena penyakit ASF, isolasi hewan sakit perlu dilakukan sesegera mungkin, mengosongkan kandang selama dua bulan, dan pengadaan peralatan kesehatan ternak.

Baca Juga: Wilayah Indonesia Ini Diimbau Waspada Banjir, Ada Bibit Siklon Tropis...

Untuk babi yang mati karena penyakit ASF dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas. Selain itu, para penjual dilarang keras menjual babi yang telah terkena penyakit ASF dan tidak mengonsumsinya.

Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF. Penyakit ini merupakan ancaman bagi populasi babi di Indonesia yang mencapai 8,5 juta ekor. Berdasarkan kajian analisis risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia, di antaranya melalui pemasokan daging babi dan produk babi lainnya, sisa-sisa katering transportasi internasional baik dari laut maupun udara, orang yang terkontaminasi virus ASF (meskipun virus ini tidak berbahaya bagi manusia), dan kontak antar babi di lingkungannya.

Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik, serta pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang rentan atau berisiko tinggi terpapar virus tersebut.

Sebelumnya, untuk mengantisipasi penyakit mematikan ternak babi di Indonesia, upaya deteksi cepat melalui kapasitasi petugas dan penyediaan reagen untuk mendiagnosis ASF ini, telah dilakukan laboratorium Kementerian Pertanian melalui Balai Veteriner dan Balai Besar Veteriner di seluruh Indonesia yang mampu menguji dengan standardisasi internasional.

Kementerian Pertanian juga tengah mengkaji kebijakan terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular virus ASF.

Pemerintah mengimbau agar provinsi dengan populasi ternak babi yang tinggi, seperti NTT, Sulut, Kalbar, Sulsel, Bali, Jateng, Sulteng, Kepri, dan Papua agar waspada dan siap siaga terhadap kemungkinan terjadinya penyakit ASF.

Hal penting yang perlu dilakukan antara lain sosialiasi kepada peternak dan advokasi kepada pimpinan daerah terkait ancaman ASF.

Sekadar diketahui, virus AFS ini rentan menginfeksi babi yang masuk dalam anggota famili Suidae, baik babi yang diternakkan maupun babi liar. Penyakit ASF dapat menyebar dengan cepat dengan tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Virus ASF merupakan satu-satunya spesies virus dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Virus ini dikelompokkan dalam grup I dalam sistem klasifikasi Baltimore, yaitu virus DNA dengan untai ganda.

Virus AFS tidak dapat dibedakan dengan “demam” babi secara klasik hanya dengan pemeriksaan klinis atau pasca mati. Pengujian laboratorium secara lebih mendetail diperlukan guna mendiagnosis penyakit ini, seperti pengambilan sampel darah, serum, limpa, amandel, dan kelenjar getah bening gastrohepatik dari kasus babi mati yang dicurigai terpapar virus ASF.

Metode pengujian yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi virus ASF yaitu isolasi virus atau uji hemadsorpsi, uji antibodi fluoresens (FAT), ELISA antigen, serta reaksi berantai polimerase (PCR), baik PCR konvensional maupun PCR waktu nyata (real time).

Adapun metode pengujian untuk mendeteksi respons kekebalan tubuh ternak babi, yaitu ELISA antibodi, uji imunoperoksidase tidak langsung (IPT), uji antibodi fluoresens tidak langsung (IFAT), dan uji imunoblot (IBT).

Bagikan